Pemimpin Dubai sekaligus Perdana Menteri dan Wakil Presiden Uni
Emirat Arab (UEA), Mohammed bin Rashid Al Maktoum, berniat menjadikan
Dubai sebagai ibu kota ekonomi syariah dunia dalam tiga tahun mendatang.
Untuk membahas rencana tersebut, sejumlah praktisi industri, pemerintah, dan para akademisi bertemu guna membahas masalah kesenjangan keterampilan yang sudah ada dan dibutuhkan bagi industri keuangan syariah.
Perwakilan senior dari berbagai macam lembaga seperti Standard&Poor’s, Simmons & Simmons, Dubai Holding, Dubai Islamic Bank, Dubai Financial Service Authority bergabung dengan para pimpinan perguruan tinggi dan akademisi untuk mendiskusikan keterampilan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk memastikan industri keuangan syariah tumbuh subur di masa depan.
Hasil diskusi tersebut menghasilkan sejumlah saran penting, seperti bagaimana cara Uni Emirat Arab mengatasi kesenjangan keterampilan para SDM ekonomi syariah. Hal yang penting dilakukan adalah penguatan hubungan dan komunikasi antara industri dan akademisi.
Dengan adanya komunikasi yang baik diharapkan akademisi mengetahui keterampilan apa yang dibutuhkan untuk mengisi posisi di industri keuangan syariah, sebagaimana diberitakan ekonomisyariah.org.
“ Keuangan Islam merupakan pilar utama dalam strategi Dubai untuk menjadi ibukota ekonomi Islam dunia. Sebagai rumah bagi lembaga pendidikan dan pelatihan di wilayah ini, kita memiliki peran penting untuk membawa akademisi, industri dan pemerintah lebih dekat bersama-sama untuk memastikan keberhasilan masa depan sektor ini,” ujar Managing Director of Dubai International Academic City dan Dubai Knowledge Village, Dr Ayoub Kazim.
Hasil survei kepada 60 bank memperlihatkan sebanyak 50% mengatakan bahwa mereka kesulitan untuk mempekerjakan para lulusan untuk mengisi posisi pemula, sebanyak 23% mengatakan bahwa mereka kesulitan untuk mempekerjakan orang pada posisi menengah dan sebanyak 5% menyatakan bahwa mereka sulit mempekerjakan orang untuk mengisi level atas/senior
Tidak ada komentar:
Posting Komentar